Pemberian Vitamin Sebagai Penanganan Gangguan Reproduksi Sapi Kelompok Ternak Desa Babakan, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang

Authors

  • Viski Fitri Hendrawan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, Jl. Puncak Dieng, Kunci, Kalisongo, Dau, Malang, Jawa Timur 65151
  • Aulia Firmawati Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, Jl. Puncak Dieng, Kunci, Kalisongo, Dau, Malang, Jawa Timur 65151
  • Desi Wulansari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, Jl. Puncak Dieng, Kunci, Kalisongo, Dau, Malang, Jawa Timur 65151
  • Yudit Oktanela Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, Jl. Puncak Dieng, Kunci, Kalisongo, Dau, Malang, Jawa Timur 65151
  • Galuh Chandra Agustina Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya, Jl. Puncak Dieng, Kunci, Kalisongo, Dau, Malang, Jawa Timur 65151

DOI:

https://doi.org/10.21776/ub.jnt.2019.002.01.7

Abstract

-Sapi merupakan ternak ruminansia yang sangat potensial di Indonesia. Setiap induk ternak mempunyai tiga kemungkinan status reproduksi yaitu: berada pada kondisi kesuburan yang normal, kondisi kemajiran yang ringan atau infertil, kondisi kemajiran yang tetap atau steril. Infertilitas adalah keadaan dimana derajat kesuburan ternak menurun yang disebabkan oleh adanya gangguan organ reproduksi. Infertil sifatnya sementara dan masih dapat diobati dan bila pengobatan berhasil maka masih dapat bereproduksi kembali. Kemajiran dengan derajat yang berat sifatnya permanen atau steril yaitu berhentinya proses reproduksi secara penuh dan tidak dapat diobati. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kemajiran pada ternak khususnya sapi, yang mayoritas merupakan gangguan hormonal terutama hormon reproduksi yang menimbulkan gejala seperti silent heat (birahi tenang) dan subestrus (birahi pendek) disebabkan oleh rendahnya kadar hormon estrogen. Sedangkan untuk kasus delayed ovulasi (ovulasi tertunda), anovulasi (kegagalan ovulasi) dan kista folikuler disebabkan oleh rendahnya kadar hormon gonadotropin (FSH dan LH). Gangguan hormonal tersebut dapat terjadi pada indukan sapi perah berproduksi susu tinggi serta akibat adanya endometritis yang berasal dari kelahiran yang tidak normal, seperti: abortus, retensi sekundinarum, kelahiran premature, kelahiran kembar, distokia, ataupun perlukaan saat melakukan pertolongan kelahiran. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menanggulangi gangguan reproduksi sapi serta dapat memperbaiki performa reproduksi sapi dengan melihat peningkatan angka kejadian birahi pada kelompok ternak di Desa Babakan Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang.

References

Ahmad, S. N., Siswansyah, D. D., & Swastika, D. K. (2014). Kajian sistem usaha ternak sapi potong di kalimantan tengah. Jurnal Pengkajian Dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 7(2), 155–170. https://doi.org/10.21082/JPPTP.V7N2.2004.P%P

Handayani, U. F., Hartono, M., & . S. (2014). Respon kecepatan timbulnya estrus dan lama estrus pada berbagai paritas sapi bali setelah dua kali pemberian prostaglandin F2α (PGF2α). Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu, 2(1), 33–39. https://doi.org/10.23960/JIPT.V2I1.P%P

Handayani, U. F., Hartono, M., & Siswanto. (2014). Respon Kecepetan Timbbulnya Estrus Dan Lama Estrus.

Hastuti, D., Nurtini, S., & Widiati, R. (2008). Kajian sosial ekonomi pelaksanaan inseminasi buatan sapi potong di Kabupaten Kebumen. MEDIAGRO, 4(2), 1–12

Hayati, & Choliq. (2009). Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Widya.

Kurnia, S. D., Saraswati, T. R., & Isdadiyanto, S. (2015). Pengaruh pemberian mikromineral (Fe, Co, Cu, Zn), vitamin (a, B1, B12, C) dan jus mengkudu (morinda citrifolia l.) terhadap konsumsi pakan, bobot lemak abdominal dan jumlah folikel ovarium yang berkembang pada puyuh (coturnix coturnix japonica l.). Buletin Anatomi Dan Fisiologi, 23(2), 43–47

Prihatno, Agus, S., Kusumawati, A., Karja, N. W. K., & Sumiarto, B. (2013). Prevalensi dan faktor risiko kawin berulang pada sapi perah pada tingkat peternak. Jurnal Veteriner, 14(452–461).

Sandjaja, & Atmarita. (2009). Kamus Gizi. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara.

Vercruysse, J., Holdsworth, P., Letonja, T., Conder, G., Hamamoto, K., Okano, K., & Rehbein, S. (2002). International harmonisation of anthelmintic efficacy guidelines (Part 2). Veterinary Parasitology, 103(4), 277–297

Downloads

Published

2019-03-06